Friday, January 13, 2012

Penyakit Apendisitis


DEFINISI

Apendisitis merupakan inflamasi dari appendiks vermiformis yang merupakan proyeksi dari ujung caecum. Merupakan kegawat daruratan bedah abdomen yang paling sering dan menyerang 7% sapai 12% dari populasi. Paling sering terjadi antara usia 20 dan 30 tahun, namun dapat terjadi pada usia berapa saja.

PATOFISIOLOGI
Penyebab pasti apendisitis masih diperdebatkan.  Obstruksi lumen oleh tinja, tumor, atau benda asing dengan konsekuensi peningkatan tekanan intra lumen, iskemia, infeksi bakterial, dan inflamasi merupakan teori yang umum disebutkan. Lumen yang tersumbat menyebabkan tidak terjadinya drainase appendiks, dan karena sekresi mukosa terus terjadi maka tekanan intra lumen akan meningkat. Peningkatan tekanan inra lumen akan menurunkan aliran darah mukosa, dan appendiks menjadi hipoksia. Mukosa menjadi luka dan menyebabkan invasi bakteri atau mikroba lain dengan inflamasi lebih lanjut dan edema. Inflamasi dapat melibatkan bagian ujung atau keseluruhan appendiks. Dapat terjadi ganggen karena thrombosis pembuluh darah lumen yang diikuti oleh perforasi.

MANIFESTASI KLINIS
Gejala khas inflamasi apendiks adalah nyeri epigastrium atau periumbilikal. Nyerinya mula-mula tidak jelas, intensitasnya meningkat dalam 3 sampai 4 jam. Nyeri ini dapat mereda dan kemudian timbul lagi pada regio kanan bawah. Nyeri terokalisasi di daerah ini karena ada rekasi inflamasi jaringan sekitar. Biasa terjadi mual, muntah dan tidak ada nafsu makan, serta demam setelah timbulnya nyeri. Diare dapat terjadi pada beberapa penderita, khususnya pada anak-anak, pada penderita lainnya justru dapat terjadi konstipasi. Perforasi, peritonitis dan terbentukya abses merupakan komplikasi paling serius dari appendisitis.

EVALUASI DAN TERAPI
Selain gejala dan tanda klinis, klinisi basanya dapat menentukan lokasinyeri dengan satu jari. Nyeri lepas biasanya terjadi pada bagianperut kanan awah. Sel darah putih (lekosit) akan meningkat mulai dari 10000 sampai 16000/mm3, dengan peningkatan netrofil, protein C-reaktif (CRP). Pemerikasaan radiologi, CT-scan, dan USG dapat membantu menegakkan diagnosis.
Pemberian antibiotika dan appendektomi merupakan terapi appendicitis baik yang biasa maupun yang dengan perforasi. Operasi dengan laparaskopi dapat mengurangi waktu penyembuhan. Penyembuhan akan lebih lama bila telah terjadi perfororasi.

Untuk lebih lengkapnya teman-teman download aja Askep Apendisitis disini
source :
Huether SE. Alterations of digestive system. In: McCance KL, Huether SE. Patophysiology 5th Ed.Evolve, 2006: 1385-1446



1 comments:

cika akantara said...

Info bermanfaat . . .
Lanjutkan . . dengan info" bermanfaat lainnya . .

Post a Comment

BERIKAN KOMENTAR

Baca Saya

Salam semangat pada semua teman-teman pembaca Blog Jurnal Kesehatan. Kami persembahkan artikel-artikel kesehatan, asuhan keperawatan, dan jurnal keperawatan untuk semua kepentingan anda silahkan download atau copy paste secara gratis

Jangan lupa tuliskan komentar nya ya...

Affiliate Program

Anda mahasiswa, pelajar, pegawai atau yang cuma suka Online di facebook dll.. Pengen punya penghasilan tambahan daftar aja disini
Loading...

Followers

 

Body Mass Index Calculator

Tukar Link